Langsung ke konten utama

Kisah Si Pecinta

Saya ceritakan sebuah kisah, tentang seorang wanita yang sudah patah harapannya.
Dia, wanita yang lugu hati dan pikirannya
Dunia ia pikir hanya sebatas dongeng tentang cinta
Disaat dia menikmati kesendirian, langit pertemukan dia dengan seorang pria di atas buminya
Jatuhlah si hati pada dia
Bukan setengah, tapi semuanya
Ini pertama kalinya ia selipkan nama pria dalam doanya
Hatinya menikmati suasana jatuh dalam dekapan cinta
Lagu-lagu dengan alunan lembut terus menyelimuti pikirannya

Sayangnya, semakin dia menunjukkan rasa, pria tersebut justru berlari pergi
Entah apa yang salah dari mereka berdua
Langkah kaki mereka sudah tidak beirama sama
Satu ingin cepat selesai, satu terus menerus menunda
Apa yang salah dari mereka
Apakah si wanita atau si pria
Kenapa mereka saling menghindar seolah kisah mereka selama ini hanya ilusi di kepala
Apa yang dicari keduanya
Ketika mereka masih ingat bagaimana mereka berjumpa

Sekarang, langit sudah mendengar kisah mereka
Dari bumi yang terus berbisik setiap detiknya

Inilah kisah Si Pecinta
Seorang wanita bodoh yang tidak tahu caranya berhenti memberi rasa
Dan seorang pria ego yang tak tahu caranya menghargai wanitanya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pupus

Apa yang dicari dari anganmu yang tak berujung Egomu terus mencuak tak ingin berhenti memahami keadaan  Meraung akal mu menjelaskan kemana seharusnya kau menapakkan kaki itu Dan kau, masih teguh dengan pendirianmu layaknya sebua batu Kau ceritakan bagaimana harapanmu yang pupus kepada mereka yang tidak mengerti dan  tidak ingin mengerti Mencari validasi konyol dari kesalahanmu sendiri Kau katakan dengan lantang, bahwa kau sama sekali tidak bersalah Karena itulah dirimu sebenarnya Tidak ingin memahami dan mengenali keadaan Pupus harapan sudah katamu Tapi kau sedang menari dibawah cahaya hingar bingar kebahagian mu yang baru Bahkan lebih terang dari sebelumnya Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan saat ini?

Luka

Kakinya sudah melalang buana tapi lukanya tidak pernah hilang siapa yang tega membawa bahagianya dari dia yang malang Ia meringis kesakitan disana membekas rasa sakit bersama kenangan Matanya menatap nanar iba rasanya ketika melihat dia tepuruk dengan tubuh yang gemetar meraung kesakitan mengais rasa iba yang tidak akan pernah dia dapatkan

Rumah Ternyaman

Aku ingin mencintaimu lebih lama Lebih dari sekedar kalimat selamanya Menari bersama diatas tawa Menyimpul benang luka menjadi bahagia Kita dua insan yang berbeda Berharap kau akan menepi dan berlabuh lama Tanpa syarata menggengam dan bercengkrama Dirumah ternyaman kita berdua