Langsung ke konten utama

Di Dermaga

Angin meniup helai helai rambutnya pelan
Dibalut warna merah langit senja yang tenggelam secara perlahan
Di dermaga yang sudah tidak bertuan
Ia duduk memeluk sebuah kenangan

Disentuhnya air tenang yang pernah menjerit karena lara
Ada bisikan luka yang terkubur didalamnya
Di dermaga yang menjadi saksi kisah lama
Ia merelakan yang bukan takdirnya

Angin masih membelai dirinya 
Tidak ada air mata tidak pula kesedihan yang harus ia jamu
Hanya tatapan kosong yang terus terpaku dengan matahari yang mulai menghilang 
Rasa sakit itu kembali merasuki hati yang mulai terbiasa

Di Dermaga
Ia bercerita tentang kisahnya sebagai seorang manusia
Diminta menjadi sempurna padahal dia hanya orang biasa
Kepada langit ia sampaikan
Lukanya masih jelas menganga

Angin membujuknya pulang untuk sementara
Hatinya seperti disayat sayat tanpa belas kasih
Melihat ia yang tk berdaya
Sendirian di dermaga yang setia
Hingga malam membawa kabar duka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pasir pantai

Ombak berderu menggulung laut Hilir mudik angin membawanya tanpa lelah Seraya mengelus tepi pantai yang sedang sendiri  Langit sedang tersipu malu Rona merah jelas nampak di lukisnya Beberapa kali ia kirimkan burung-burung yang selalu bertamu Menyampaikan pesan kepada laut yang sekarang sibuk dengan gurauannya Ombak memanggil pelan Masih mengelus pasir-pasir yang ada di tepi pantai Bertanya si pasir saat ombak menghampiri Apa yang dicari sampai ingin mampir kedaratan Karena ada ribuan pasir yang menunggu jawaban

EGO

 Kita saling menyakiti dalam diam Menyelimutinya dengan kata “Setia” Ego kita mencuak memanas Menyayat genggaman yang telah kita pertahankan lama Kaki kita mematung ditempat yang sama Saling berhadapan, mata kita bertatap Melihat luka yang telah dalam bersama Bertarung akal dan hati kita Membenarkan dan menyalahkan yang sedang terjadi Apa yang sedang kita lakukan sekarang? Tubuh kita telah hancur karena luka