Langsung ke konten utama

di labirin

sedalam apa palung maria itu
akan aku selami dia 
agar aku tahu apakah rasa ini sama dalamnya

setinggi mana si Mauna Kea
agar saya tau seberapa tinggi mimpi saya selama ini

rasanya ingin saya letakan perasaan ini di bagian utara bumi agar abadi
sayangnya, matahari perlahan mengikisnya

sudah terlalu sabar 
kalah sudah dengan si pedang perak

mati rasa sudah rasanya
hilang arah saya sekarang
pandangan saya gelap tanpa cahaya
kaki saya takut melangkah walau sejengkal
saya tersesat di labirin luas yang saya ciptakan sendiri
Tanpa jalan keluar yang bisa dilewati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pupus

Apa yang dicari dari anganmu yang tak berujung Egomu terus mencuak tak ingin berhenti memahami keadaan  Meraung akal mu menjelaskan kemana seharusnya kau menapakkan kaki itu Dan kau, masih teguh dengan pendirianmu layaknya sebua batu Kau ceritakan bagaimana harapanmu yang pupus kepada mereka yang tidak mengerti dan  tidak ingin mengerti Mencari validasi konyol dari kesalahanmu sendiri Kau katakan dengan lantang, bahwa kau sama sekali tidak bersalah Karena itulah dirimu sebenarnya Tidak ingin memahami dan mengenali keadaan Pupus harapan sudah katamu Tapi kau sedang menari dibawah cahaya hingar bingar kebahagian mu yang baru Bahkan lebih terang dari sebelumnya Apa sebenarnya yang sedang kau lakukan saat ini?

Luka

Kakinya sudah melalang buana tapi lukanya tidak pernah hilang siapa yang tega membawa bahagianya dari dia yang malang Ia meringis kesakitan disana membekas rasa sakit bersama kenangan Matanya menatap nanar iba rasanya ketika melihat dia tepuruk dengan tubuh yang gemetar meraung kesakitan mengais rasa iba yang tidak akan pernah dia dapatkan

Rumah Ternyaman

Aku ingin mencintaimu lebih lama Lebih dari sekedar kalimat selamanya Menari bersama diatas tawa Menyimpul benang luka menjadi bahagia Kita dua insan yang berbeda Berharap kau akan menepi dan berlabuh lama Tanpa syarata menggengam dan bercengkrama Dirumah ternyaman kita berdua