Langsung ke konten utama

di labirin

sedalam apa palung maria itu
akan aku selami dia 
agar aku tahu apakah rasa ini sama dalamnya

setinggi mana si Mauna Kea
agar saya tau seberapa tinggi mimpi saya selama ini

rasanya ingin saya letakan perasaan ini di bagian utara bumi agar abadi
sayangnya, matahari perlahan mengikisnya

sudah terlalu sabar 
kalah sudah dengan si pedang perak

mati rasa sudah rasanya
hilang arah saya sekarang
pandangan saya gelap tanpa cahaya
kaki saya takut melangkah walau sejengkal
saya tersesat di labirin luas yang saya ciptakan sendiri
Tanpa jalan keluar yang bisa dilewati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Dermaga

Angin meniup helai helai rambutnya pelan Dibalut warna merah langit senja yang tenggelam secara perlahan Di dermaga yang sudah tidak bertuan Ia duduk memeluk sebuah kenangan Disentuhnya air tenang yang pernah menjerit karena lara Ada bisikan luka yang terkubur didalamnya Di dermaga yang menjadi saksi kisah lama Ia merelakan yang bukan takdirnya Angin masih membelai dirinya  Tidak ada air mata tidak pula kesedihan yang harus ia jamu Hanya tatapan kosong yang terus terpaku dengan matahari yang mulai menghilang  Rasa sakit itu kembali merasuki hati yang mulai terbiasa Di Dermaga Ia bercerita tentang kisahnya sebagai seorang manusia Diminta menjadi sempurna padahal dia hanya orang biasa Kepada langit ia sampaikan Lukanya masih jelas menganga Angin membujuknya pulang untuk sementara Hatinya seperti disayat sayat tanpa belas kasih Melihat ia yang tk berdaya Sendirian di dermaga yang setia Hingga malam membawa kabar duka

Pasir pantai

Ombak berderu menggulung laut Hilir mudik angin membawanya tanpa lelah Seraya mengelus tepi pantai yang sedang sendiri  Langit sedang tersipu malu Rona merah jelas nampak di lukisnya Beberapa kali ia kirimkan burung-burung yang selalu bertamu Menyampaikan pesan kepada laut yang sekarang sibuk dengan gurauannya Ombak memanggil pelan Masih mengelus pasir-pasir yang ada di tepi pantai Bertanya si pasir saat ombak menghampiri Apa yang dicari sampai ingin mampir kedaratan Karena ada ribuan pasir yang menunggu jawaban

EGO

 Kita saling menyakiti dalam diam Menyelimutinya dengan kata “Setia” Ego kita mencuak memanas Menyayat genggaman yang telah kita pertahankan lama Kaki kita mematung ditempat yang sama Saling berhadapan, mata kita bertatap Melihat luka yang telah dalam bersama Bertarung akal dan hati kita Membenarkan dan menyalahkan yang sedang terjadi Apa yang sedang kita lakukan sekarang? Tubuh kita telah hancur karena luka